banner 728x250

Cerita Ibu Tien Soeharto soal pemimpin yang aniaya dan yang inayah

SPM Pronews.com Jakarta

Taka da angin, taka da hujan., tapi dini hari tadi Kamis, 8 Agustus 2019 sekitar pukul 03.30 aku yang sehari-hari tidur di kursi ruang tamu mendpatkan kehadiran tamu istimewa melalui alam ½ sadar. Sebab dihari-hari biasanya antara pukul 03.00 s/d pukul 04.00 WIB adalah saat aku terjaga untuk menunaikan ibadah sholat tahajud dan sholat witir.

banner 400x130

Aku merasa sudah akan bangun, namun tertahan karena dihadapanku ada seorang ibu yang sangat ku kenal, lengkap dengan pakaian kebaya warna coklat merah, mengenakan sanggul dan berkacamata.

Aku merasa sangat sadar, namun yang kurasakan saat itu aku seperti dibawa ke masa Ibu Tien Soeharto masih hidup, jadi bukan seperti Ibu Tien yang sudah meninggal pada tanggal 28 April 1996 yang lalu  yang dating kepadaku.

Seperti tak perduli denganku, Ibu Tien bercerita sangat jelas dan gambalang, beliau bicara soal pemimpin yang aniaya dan pemimpin yang inayah, kata-kata seperti ini belum pernah aku dengar sama sekali sebelumnya.

“Sekarang ini, banyak sekali pemimpin yang aniaya, aniaya terhadap bawahannya, terhadap karyawannya, terhadap para staf, ” ujar Ibu Tien Soeharto

“Bahkan mereka juga aniaya terhadap keluarganya, lebih sakit lagi terhadap diri mereka sendiri” lanjut Ibu Tien.

Dijelaskan Ibu Tien, bahwa pemimpin seperti ini bahkan tega secara terus menerus menganiaya istri dan anaknya dengan rezeki yang bukan haknya, dan pada akhirnya akan menganiaya dirinya sendiri melalui kesenangan-kesenangan sesat yang menjerumuskannya.

Selanjutnya, Ibu Tien juga mengulas dengan jelas soal pemimpin yang Inayah.

“Yang aniaya sekarang inicontahnya banyak..banyak sekali, tapi juga ada yang Inayah, meski tak banyak tapi ada” ujar Ibu Tien Soeharto.

Disini aku ingin sekali ajukan pertanyaan, karena tak mengerti maksud pembicaraan Ibu Tien. Tapi tak bisa, aku hanya bisa terperangah den menyimak pembicaraan beliau.

“Pemimpin yang Inayah itu selalu meminta pertolongan Gusti Allah, dan bisa menolong orang-orang yang berada dibawah tanggungjawabnya” ujar Ibu Tien.

Tak berselalng lama akupun bisa bangkit dari pembaringan, tetapi Ibu Tien yang tadi kulihat duduk di kursi dihadapanku sudah tidak ada lagi.

Pagi harinya, cerita ini kusampaikan ke rekan kerjaku Asnawi alias Ucok, Entah serius entah bercanda Ucok sarankan agar kisah ini disampaikan saja melalui media yang kita punya, barangkali saja ada sesuatu yang mengganjal dari almarhumah di alam sana, lagipun tak ada salahnya kita semua bijak dalam bersikap, terlebih pesan moral yang disampaikan itu sangat baik, terutama untuk para sahabat yang saat ini memegang kursi kepemimpinan. Semoga bermanfaat (Deny)

Spmpronews.com

banner 400x130

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *